Apple Hapus MacBook Air 11 Inci

Apple secara diam-diam menghentikan penjualan dan produksi (discontinued) MacBook Air 11 inci. Keputusan tersebut diambil setelah dirilisnya rangkaian MacBook Pro dan MacBook Air baru.

Dalam acara “Hello Again”, Kamis (27/10/2016), Apple tidak secara terang-terangan menyebutkan telah “menghapus” MacBook Air 11 inci dari peredaran. Akan tetapi, informasi dan penjualan laptop yang satu ini telah menghilang dari situs resmi Apple.

Hal tersebut yang mengindikasikan Apple telah menghentikan produksi MacBook Air 11 inci. Selain itu, dalam acara yang sama, Apple hanya mengenalkan update minor MacBook Air dengan ukuran layar 13 inci.

Tidak ada lagi MacBook Air 11 inci baru. MacBook Air 11 inci ini sebelumnya dikenal sebagai laptop tipis dan ringan yang dimiliki oleh Apple.

Dikutip KompasTekno dari Apple Insider, Jumat (28/10/2016), Phil Schiller selaku Senior VP of Worldwide Marketing Apple, dalam presentasinya selalu membandingkan MacBook Pro baru dengan MacBook Air.

Schiller menyebut MacBook Pro baru itu memiliki bobot yang sama ringan dengan MacBook Air, bahkan sedikit lebih ringkas ukurannya.

Schiller pun membujuk agar pengguna MacBook Air beralih ke MacBook Pro 13 inci yang baru dikenalkan itu.

Di akhir presentasinya, Schiller menampilkan tiga foto lini MacBook Pro baru yang dikenalkan Apple, serta lini MacBook ukuran layar 12 inci yang baru berumur 8 bulan.

Pesan tersebut bisa diartikan, fans Apple harus mulai melupakan model-model MacBook lain yang tidak ditampilkan malam itu, yakni MacBook Air 11 inci.

Namun demikian, MacBook Air ukuran 13 inci tetap didukung Apple. Hal ini terbukti dengan upgrade minor yang diberikan Apple, seperti RAM yang digandakan dari semula 4 GB menjadi 8 GB.

Untuk saat ini, MacBook Air 13 inci dijual dengan 999 dollar AS untuk varian penyimpanan 128 GB, dan 1.199 dollar AS untuk varian penyimpanan 256 GB. Apple akan tetap menjual varian ini, walau belum ditentukan sampai kapan.

Iklan

Galaxy Note 7 Terbakar, Samsung Tetap Meraja

Bisnis smartphone Samsung rupanya begitu besar. Sehingga penarikan kembali (recall) Galaxy Note 7 yang kolosal pun tak mampu menggoyang posisinya di urutan teratas.

Data kuartal ketiga 2016 dari dua lembaga riset pasar IDC dan Strategy Analytics sama-sama membeberkan bahwa Samsung tetap menjadi pabrikan smartphone terbesar di dunia.

“Dominasi pasar Samsung di kuartal ketiga tak goyah dalam jangka pendek meski ada kejadian recall high-profile Galaxy Note 7. Namun, dampak jangka panjangnya masih harus dilihat,” ujar Melissa Chau, Associate Research Director mobile devices IDC, seperti dirangkum KompasTekno dari Cnet, Jumat (28/10/2016).

Baca: Oppo dan Vivo Rajai China, Geser Huawei dan Xiaomi

Walau demikian, pangsa pasar Samsung di kuartal ini tercatatat menurun.
IDC
Catatan preliminary IDC mengenai lima besar pabrikan smartphone dunia di kuarta 3 2016.
IDC menyebutkan pabrikan asal Negeri Ginseng tersebut memiliki market share 20 persen dengan pengapalan 72,5 juta unit di kuartal ini, turun dari 23,3 persen dengan 83,8 juta unit di kuartal yang sama tahun lalu.

Apple, rival berat Samsung yang duduk di posisi kedua, juga mengalami penurunan pangsa pasar dari 13,4 persen setahun lalu menjadi 12,5 persen.

Urutan-urutan berikutnya di daftar 5 besar pabrikan smartphone dunia dikuasai oleh tiga vendor China, yakni Huawei, Oppo dan Vivo.

Dari ketiganya, Oppo mencatat pertumbuhan tertinggi, sebesar 121,6 persen. Pengapalannya meningkat dari 11,4 juta unit pada kuartal-III 2015 (3,2 persen market share) menjadi 25,3 juta unit pada kuartal-III 2016 (7 persen market share).

Lebih Dekat dengan Android Moto E3 Power

“Moto is back”, begitu bunyi slogan acara peluncuran smartphone Android Moto E3 Power yang digelar di Jakarta, Rabu (26/10/2016) kemarin. Moto E3 memang menandai kembalinya smartphone besutan Motorola ke pasaran Tanah Air setelah sempat absen beberapa tahun.

Kali ini, Motorola datang bersama Lenovo selaku pemilik baru yang mengakuisisi unit ponsel perusahaan tersebut pada Oktober 2014 lalu. Ponsel-ponsel bermerek Moto pun akan dijual oleh Lenovo Indonesia, berdampingan dengan ponsel besutannya sendiri, seperti seri Vibe.

Seperti apa produk Moto perdana di Indonesia ini? KompasTekno sempat menggenggam dan memotret Moto E3 Power dalam debutnya di Jakarta. Berikut ulasan singkatnya.

Desain

Moto E3 Power adalah salah satu varian seri ponsel Moto E3 yang khusus dipasarkan di wilayah Asia Pasifik. Selain Indonesia, beberapa negara lain seperti India, Thailand, dan Vietnam telah lebih dulu didatangi Moto E3.

Sesuai namanya, fitur andalan Moto E3 Power adalah baterai berkapasitas 3.500 mAh yang mendukung fitur rapid charging. Lenovo memaketkan charger khusus dengan keluaran daya 10 watt yang diklaim sanggup memberikan ketahanan baterai selama 5 jam setelah pengisian selama hanya 15 menit.

Baca: Moto E3 Power Hanya Dijual Online di Indonesia

Tampilan muka Moto E3 Power didominasi layar berukuran 5 inci (1.280 x 720 piksel) yang dikelilingi bingkai hitam mengilap berukuran cukup tebal. Sepasang grill speaker mengapit layar di sisi atas dan bawah. Sebuah kamera depan 5 megapixel bertengger di salah satu pojokan.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Tampak depan dan belakang Moto E3 Power.

Seperti biasa, tombol daya dan pengatur volume bisa ditemukan di sisi kanan dalam baris yang sama. Tidak ada laci SIM card atau micro-SD karena Moto E3 Power memang tidak mengusung konsep unibody, alias penutup belakang serta baterai bisa dilepas.

Colokan audio 3,5 mm bisa ditemukan di sisi atas, sementara bagian bawah memuat konektor micro USB untuk keperluan charging dan transfer data.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Sisi atas dan bawah Moto E3 Power
Bagian punggung Moto E3 Power terbuat dari bahan plastik tipis bertekstur bintik-bintik kecil supaya terasa kesat dan tidak licin, dengan logo Motorola di bawah modul kamera utama 8 megapiksel dan LED flash.

Sisi belakang yang ternyata berupa cover ini bisa dilepas untuk mengakses kompartemen baterai serta dua slot micro-SIM card dan satu micro SD. Baterai tadi pun bisa dicopot dan diganti.

Moto E3 Power mendukung koneksi data melalui jaringan 4G yang tersedia di Indonesia melalui beberapa band TDD dan FDD. Adapun kapasitas kartu memori micro SD yang didukung mencapai 32 GB.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Cover belakang Moto E3 Power bisa dibuka untuk mengakses baterai.
Sistem operasi

Moto E3 Power memiliki prosesor quad-core MediaTek MT6735P berkecepatan 1 GHz yang dipadu RAM 2 GB dan media penyimpanan internal berkapasitas 16 GB.

Jeroan hardware itu menjalankan sistem operasi Android 6.0 Marshmallow yang tampil polos tanpa dihiasi custom UI layaknya pabrikan-pabrikan smartphone lain.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Beberapa tampilan OS Android 6.0 Marshmallow pada Moto E3 Power
Navigasi dijalankan melalui trio tombol home, back, dan recent apps yang menyatu dengan tampilan sistem operasi (on-screen). Di sisi bawah terdapat app drawer yang menyimpan daftar semua aplikasi di ponsel.

Tahan air

Meski tidak datang dengan sertifikasi IP (International Protection Marking) yang biasanya mengindikasikan ketahanan suatu perangkat terhadap debu dan air, Motorola mengklaim bahwa Moto E3 Power memiliki kapabilitas tersebut.

Seperti ponsel Moto sebelumnya, perangkat ini memiliki predikat “splash resistant” yang berarti tahan air dengan paparan yang ringan, seperti hujan rintik-rintik dan cipratan air.
Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Interface aplikasi kamera Moto E3 Power.
Ketahanan tersebut diwujudkan melalui proses nano-coating yang melapis komponen hardware elektronik internal agar tak rusak saat terpapar air.

Meski demikian, Lenovo tetap menyarankan agar pengguna tidak menceburkan atau merendam perangkat ini ke dalam air dengan sengaja.

Moto E3 Power mulai dijual pada Kamis (27/10/2016) melalui retailer online Lazada Indonesia. Benderolnya dipatok di harga Rp 1.899.000. Belum diketahui kapan perangkat ini bisa diperoleh melalui toko ritel offline.

Layanan Uang Digital Telkomsel Dipakai di Lingkungan ESQ

Telkomsel bekerja sama dengan ESQ menyediakan solusi layanan komunikasi terpadu bagi para anggota komunitas ESQ. Layanan uang digital Tcash juga bakal dipakai pelaku usaha kecil menengah (UKM) di lingkungan ESQ Tower.

Telkomsel menyediakan paket komunikasi gratis agar para karyawan dan mahasiswa yang tergabung dalam ESQ Group dapat saling berkomunikasi melalui telepon dan SMS, maupun menggunakan layanan data dengan nyaman.

Sementara para pelaku UKM di lingkungan ESQ Tower dapat berperan sebagai merchant Tcash, di mana seluruh transaksi jual beli dilakukan melalui layanan keuangan digital tersebut.

Selain itu, para wirausahawan yang bergerak di bidang kuliner tersebut juga dibimbing menjadi agen untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan, seperti cash in dan cash out di akun Tcash, proses upgrade kartu 4G LTE, dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir perkembangan bisnis yang dilakukan oleh pelaku UKM memang semakin mengarah ke pasar modern dan global sehingga dukungan teknologi informasi dan komunikasi menjadi sangat diperlukan oleh segmen UKM.

“Untuk mendukung kesuksesan UKM, kami menyediakan solusi layanan keuangan digital,” kata Direktur Sales Telkomsel Mas’ud Khamid dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Jumat (28/10/2016).

Kami berupaya memperkuat UKM agar bisa go digital dengan memanfaatkan TCASH sebagai layanan pembayaran secara mobile,” imbuh Mas’ud.

Telkomsel juga menghadirkan layanan isi ulang pulsa dan penjualan kartu perdana 4G LTE di Medina Cafe dan Medina Canteen yang berlokasi di ESQ Tower.

Ke depannya, ESQ Tour & Travel juga dirangkul untuk berperan sebagai agen penyedia layanan roaming internasional Telkomsel.

MagSafe, Ciri Khas MacBook yang Kini Dihilangkan Apple

Salah satu detil kecil yang membuat MacBook unik dan menarik adalah MagSafe, konektor berbahan magnet yang berfungsi sebagai pengisi daya baterai. Malangnya, fitur ciri khas MacBook itu kini justru dihapus oleh Apple.

MagSafe menghubungkan kabel pengisian daya ke MacBook dengan memanfaatkan magnet. Fitur ini membuat kabel bisa bertengger dengan kuat dan stabil saat mengisi daya, namun gampang lepas.

Dengan demikian, MagSafe berguna melindungi kabel charger dan port pengisian Anda dari kerusakan yang terjadi akibat sentakan mendadak.

Misalnya saat kabel charger yang terpasang di MacBook itu tak sengaja tersangkut kaki Anda, maka MagSafe membuat kabel lepas dengan mudah, tanpa merusak port laptop Anda.

Sayangnya, sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Verge, Jumat (28/10/2016), Apple benar-benar membunuh fitur MagSafe dan menggantinya dengan port USB-C di MacBook terbaru.

MacBook 2015 dan tiga varian MacBook Pro terbaru sama sekali tak menggunakan MagSafe. Hanya ada port USB-C biasa untuk berbagai keperluan, mulai dari mengisi daya hingga memindahkan data.

Sebagai ganti MagSafe, Apple memang memberikan empat port USB-C yang seluruhnya bisa dipakai untuk mengisi daya. Hal ini tentu merupakan fitur yang praktis dan menarik, namun tentu saja berbeda.

Seperti diketahui, konektor pengisian daya cenderung mengunci port USB-C. Artinya, konektor tersebut melekat lebih erat ketimbang MagSafe. Ketika tanpa sengaja pengguna menyentak kabel pengisian daya, bisa jadi konektor tersebut tetap terpasang erat dan laptop justru ikut tersentak.

Tapi pengguna tak perlu bingung. Bila masih menginginkan MagSafe, setidaknya fitur yang mirip dengannya, masih ada perusahaan di luar Apple yang merilis MagSafe untuk USB-C.

Bentuk alat tambahan ini mungkin kurang elegan karena memberikan tonjolan tambahan di port pengisian daya. Namun setidaknya bisa berfungsi sebagaimana MagSafe pada MacBook lawas.

Jamboard, Papan Tulis Android Seharga Rp 78 Juta

Google baru saja merilis produk hardware terbarunya yang dinamakan Jamboard. Berbeda dari smartphone Pixel yang ditujukan bagi kalangan consumer, produk baru tersebut diperuntukan bagi kalangan kantor atau enterprise.

Apa itu Jamboard? Ia merupakan papan tulis elektronik berbasiskan Android dengan ukuran jumbo. Pada dasarnya, perangkat ini merupakan tablet raksasa berukuran 55 inci yang mendukung resolusi 4K.

Layaknya papan tulis konvensional, pengguna nantinya bisa menulis dan menggambar langsung di Jamboard. Pengguna bisa menggunakan jari tangan dan stylus bawaan untuk menulis di papan tersebut.

Untuk menghapus, Google sudah menyiapkan semacam penghapus fisik. Jika malas menggunakan perangkat itu, pengguna juga bisa menyapukan tangan di tulisan atau gambar yang ingin dihapus.

Google juga menyediakan tools berupa sticky notes di layar ini. Pengguna juga bisa dengan mudah menambahkan dokumen dari Google Docs, Sheets, Slide, dan foto ke layar Jamboard.

Kolaborasi, atau disebut “Jam” oleh Google, merupakan inti dari Jamboard ini. Pengguna bisa berkolaborasi dalam satu proyek secara live dari mana saja, asalkan terhubung dengan internet.

Mereka bisa sama-sama menulis, menggambar, atau berbagi ide di satu layar yang sama.

Untuk keperluan kolaborasi ini, pengguna bisa memanfaatkan tablet dan smartphone berbasis Android atau iOS. Namun, ada perbedaan dari dua perangkat itu.

Aplikasi Jamboard di tablet mengizinkan pengguna menggunakan semua fungsi editing yang ada di Jamboard.

Sementara itu, sebagaimana KompasTekno rangkum dari 9to5Google, Jumat (28/10/2016), aplikasi smartphone dibatasi fungsinya hanya untuk melihat layar proyek dan input data. Pengguna smartphone tidak bisa menggambar dan menulis.

Uniknya, proyek tersebut nantinya akan disimpan langsung di layanan cloud Google Drive, yang bisa diakses oleh para peserta kolaborasi.

Jamboard sendiri dilengkapi dengan koneksi WiFi untuk kepentingan kolaborasi, built-in camera, dan speaker.

Jamboard dijual dengan harga yang cukup tinggi, yakni 6.000 dollar AS atau sekitar Rp 78 juta.

Ini Rahasia Kesuksesan Oppo

Lima tahun lalu, saat pertama kali memasuki pasaran smartphone, Oppo bisa dibilang bukan siapa-siapa. Gaung namanya pun relatif tidak terdengar. Tapi kini pabrikan asal China itu telah menjadi salah satu pabrikan smartphone terbesar dunia.

Data IDC untuk kuartal-III 2016 menempatkan Oppo sebagai vendor terbesar keempat di dunia setelah Samsung, Apple, dan Huawei. Di Indonesia, Oppo duduk di urutan kedua setelah Samsung.

Apa rahasia kesuksesan Oppo? Laporan Reuters yang dirangkum KompasTekno, Jumat (28/10/2016) menyebutkan bahwa salah satu resep Oppo adalah pemasaran yang agresif baik secara online maupun offline.

“Tak ada brand lain yang mampu menyamai taktik bombardir penjualan Oppo,” komentar seorang eksekutif distributor ponsel di Shijiazhuang, China.

Baca: Apa Kesamaan Oppo, Vivo, dan OnePlus?

Oppo R9 “Selfie Expert” yang memiliki kamera depan mumpuni, misalnya, dipromosikan dengan target audience pengguna media sosial. Model ini berhasil menjadi ponsel dengan penjualan tertinggi di China kuartal lalu.

Andalkan juga penjualan offline

Di Jakarta, outlet ponsel Oppo bisa ditemukan di pusat perbelanjaan. Toko mini itu kerap disertai jajaran SPG yang menawarkan pengunjung supaya mencoba ponsel Oppo.

Analis menyebutkan jaringan toko fisik Oppo berhasil mendorong penjualan di Indonesia, juga kota-kota kecil yang penduduknya masih kurang akrab dengan belanja online dan lebih suka mengunjungi outlet untuk membeli ponsel.

Oppo juga mengendalikan sendiri segala hal yang terkait dengan penjualan smartphone, dari tahapan desain produk hingga distribusi.

Oppo menjual perangkat lewat jaringan tokonya sendiri, menjalin kerja sama dengan mitra ritel lokal, dan menyediakan penaga pemasaran berikut insentif.

“Kami memproduksi sendiri semua ponsel… kami tak berurusan dengan distributor, kami ingin meyakinkan bahwa kami memiliki kendali dari end-to-end atas pengalaman pengguna,” kata Chief Executive Oppo Singapura, Sean Deng.

Kesinambungan strategi “bombardir pasar” Oppo masih dipertanyakan karena besarnya biaya yang diperlukan. Begitu pertumbuhan melambat, hal tersebut mungkin akan menjadi masalah.

“Saya pikir model (pemasaran Oppo) stabil, namun pertumbuhan ke depannya mungkin menurun dan membutuhkan lebih banyak investasi,” sebut CK Lu, seorang analis di firma riset Gartner.

Toh, kemunculan Oppo tak urung mengejutkan para rivalnya sesama pabrikan ponsel dari China, seperti Xiaomi dan LeEco, yang selama ini lebih banyak mengandalkan online marketing.

Oppo berada di bawah payung besar BBK Electronics, raksasa elektronik China yang juga menjual ponsel dengan brand Vivo. Keduanya kini tercatat masuk dalam lima besar pabrikan smartphone dunia.