Jamboard, Papan Tulis Android Seharga Rp 78 Juta

Google baru saja merilis produk hardware terbarunya yang dinamakan Jamboard. Berbeda dari smartphone Pixel yang ditujukan bagi kalangan consumer, produk baru tersebut diperuntukan bagi kalangan kantor atau enterprise.

Apa itu Jamboard? Ia merupakan papan tulis elektronik berbasiskan Android dengan ukuran jumbo. Pada dasarnya, perangkat ini merupakan tablet raksasa berukuran 55 inci yang mendukung resolusi 4K.

Layaknya papan tulis konvensional, pengguna nantinya bisa menulis dan menggambar langsung di Jamboard. Pengguna bisa menggunakan jari tangan dan stylus bawaan untuk menulis di papan tersebut.

Untuk menghapus, Google sudah menyiapkan semacam penghapus fisik. Jika malas menggunakan perangkat itu, pengguna juga bisa menyapukan tangan di tulisan atau gambar yang ingin dihapus.

Google juga menyediakan tools berupa sticky notes di layar ini. Pengguna juga bisa dengan mudah menambahkan dokumen dari Google Docs, Sheets, Slide, dan foto ke layar Jamboard.

Kolaborasi, atau disebut “Jam” oleh Google, merupakan inti dari Jamboard ini. Pengguna bisa berkolaborasi dalam satu proyek secara live dari mana saja, asalkan terhubung dengan internet.

Mereka bisa sama-sama menulis, menggambar, atau berbagi ide di satu layar yang sama.

Untuk keperluan kolaborasi ini, pengguna bisa memanfaatkan tablet dan smartphone berbasis Android atau iOS. Namun, ada perbedaan dari dua perangkat itu.

Aplikasi Jamboard di tablet mengizinkan pengguna menggunakan semua fungsi editing yang ada di Jamboard.

Sementara itu, sebagaimana KompasTekno rangkum dari 9to5Google, Jumat (28/10/2016), aplikasi smartphone dibatasi fungsinya hanya untuk melihat layar proyek dan input data. Pengguna smartphone tidak bisa menggambar dan menulis.

Uniknya, proyek tersebut nantinya akan disimpan langsung di layanan cloud Google Drive, yang bisa diakses oleh para peserta kolaborasi.

Jamboard sendiri dilengkapi dengan koneksi WiFi untuk kepentingan kolaborasi, built-in camera, dan speaker.

Jamboard dijual dengan harga yang cukup tinggi, yakni 6.000 dollar AS atau sekitar Rp 78 juta.

Ini Rahasia Kesuksesan Oppo

Lima tahun lalu, saat pertama kali memasuki pasaran smartphone, Oppo bisa dibilang bukan siapa-siapa. Gaung namanya pun relatif tidak terdengar. Tapi kini pabrikan asal China itu telah menjadi salah satu pabrikan smartphone terbesar dunia.

Data IDC untuk kuartal-III 2016 menempatkan Oppo sebagai vendor terbesar keempat di dunia setelah Samsung, Apple, dan Huawei. Di Indonesia, Oppo duduk di urutan kedua setelah Samsung.

Apa rahasia kesuksesan Oppo? Laporan Reuters yang dirangkum KompasTekno, Jumat (28/10/2016) menyebutkan bahwa salah satu resep Oppo adalah pemasaran yang agresif baik secara online maupun offline.

“Tak ada brand lain yang mampu menyamai taktik bombardir penjualan Oppo,” komentar seorang eksekutif distributor ponsel di Shijiazhuang, China.

Baca: Apa Kesamaan Oppo, Vivo, dan OnePlus?

Oppo R9 “Selfie Expert” yang memiliki kamera depan mumpuni, misalnya, dipromosikan dengan target audience pengguna media sosial. Model ini berhasil menjadi ponsel dengan penjualan tertinggi di China kuartal lalu.

Andalkan juga penjualan offline

Di Jakarta, outlet ponsel Oppo bisa ditemukan di pusat perbelanjaan. Toko mini itu kerap disertai jajaran SPG yang menawarkan pengunjung supaya mencoba ponsel Oppo.

Analis menyebutkan jaringan toko fisik Oppo berhasil mendorong penjualan di Indonesia, juga kota-kota kecil yang penduduknya masih kurang akrab dengan belanja online dan lebih suka mengunjungi outlet untuk membeli ponsel.

Oppo juga mengendalikan sendiri segala hal yang terkait dengan penjualan smartphone, dari tahapan desain produk hingga distribusi.

Oppo menjual perangkat lewat jaringan tokonya sendiri, menjalin kerja sama dengan mitra ritel lokal, dan menyediakan penaga pemasaran berikut insentif.

“Kami memproduksi sendiri semua ponsel… kami tak berurusan dengan distributor, kami ingin meyakinkan bahwa kami memiliki kendali dari end-to-end atas pengalaman pengguna,” kata Chief Executive Oppo Singapura, Sean Deng.

Kesinambungan strategi “bombardir pasar” Oppo masih dipertanyakan karena besarnya biaya yang diperlukan. Begitu pertumbuhan melambat, hal tersebut mungkin akan menjadi masalah.

“Saya pikir model (pemasaran Oppo) stabil, namun pertumbuhan ke depannya mungkin menurun dan membutuhkan lebih banyak investasi,” sebut CK Lu, seorang analis di firma riset Gartner.

Toh, kemunculan Oppo tak urung mengejutkan para rivalnya sesama pabrikan ponsel dari China, seperti Xiaomi dan LeEco, yang selama ini lebih banyak mengandalkan online marketing.

Oppo berada di bawah payung besar BBK Electronics, raksasa elektronik China yang juga menjual ponsel dengan brand Vivo. Keduanya kini tercatat masuk dalam lima besar pabrikan smartphone dunia.

Inikah Pertanda iMessage Bakal Hadir di Android?

Apple selama ini diyakini tidak akan memboyong layanan pesan singkat iMessage ke Android. Namun, ternyata ada indikasi bahwa Apple bakal membuat keputusan sebaliknya.

Seorang desainer UI John Gruber mengklaim menemukan pertanda, Apple akan membawa iMessage ke Android. Ia mendengar, tim internal Apple telah membuat mockup atau contoh tampilan aplikasi iMessage untuk Android.

Bahkan, mockup tersebut dibuat dengan sangat mendetil. Contohnya pun dibuat dalam beberapa versi sekaligus.

“Saya dengar kabar burung yang menyebutkan bahwa mockup iMessage untuk Android tengah beredar di tim internal perusahaan. Contoh itu memiliki desain bervariasi, mulai dari yang mirip dengan versi iOS, hingga yang menggunakan Material Design,” ujar John, sebagaimana KompasTekno rangkum dari MacWorld, Jumat (28/10/2016).

Hingga saat ini, Apple memang belum memperkenalkan, apalagi merilis iMessage untuk Android ke publik. Aplikasi Apple di Android sendiri sangat terbatas jumlahnya.

Sejauh ini, hanya Apple Music saja yang telah dibuat untuk sistem operasi Android. Aplikasi yang satu ini memiliki font Android dan menggunakan referensi Material Design. Belum ada aplikasi lain yang mengikuti jejaknya.

Keberadaan mockup iMessage untuk Android dapat dikatakan sebagai indikator bahwa Apple sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun, ini tidak berarti aplikasi tersebut sudah pasti akan dirilis ke publik.

Bisa saja, Apple tetap menyimpan iMessage sebagai aplikasi yang eksklusif untuk sistem operasi iOS. Lagipula aplikasi tersebut sudah digunakan oleh lebih dari 1 miliar orang, tanpa harus dirilis ke Android.

Mengunjungi Kantor LeEco, Tetangga Samsung di Silicon Valley

Pekan lalu, vendor elektronik asal China, LeEco mengajak KompasTekno dan beberapa media dari Indonesia untuk menyaksikan debut perusahaan asal China itu di pasar AS.

Usai acara peluncuran, LeEco pun mengajak jurnalis dari Indonesia berkunjung ke salah satu kantor pusatnya di San Jose, California, AS.

LeEco sendiri memang memiliki dua kantor pusat. Kantor pertama terletak di Beijing, China, negara asal perusahaan tersebut.

Deliusno/Kompas.com
Pintu masuk kantor pusat LeEco

Sementara itu, kantor pusat kedua terletak di wilayah Silicon Valley, AS. Wilayah yang dikenal sebagai markas perusahaan-perusahaan IT top dunia. Tepatnya, kantor pusat LeEco ada di 3553 North 1st Street, San Jose, California 95134.

Kawasan Silicon Valley dipilih karena perusahaan elektronik China itu nampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka juga memiliki taji di antara perusahaan teknologi besar lainnya.
Deliusno/Kompas.com
Kantor pusat LeEco di San Jose bertetangga dengan Samsung

Kantor LeEco ini pun bertetangga dengan perusahaan elektronik asal Asia lainnya, yakni Samsung.

Kaku, tapi santai
Deliusno/Kompas.com
Masuk ke kantor LeEco, pengunjung bakal langsung disambut televisi 120 inci

Masuk ke kantor, pengunjung akan langsung disambut dengan pameran produk-produk LeEco yang tersedia saat ini.

Di bagian depan, terlihat televisi berukuran raksasa. Menurut pihak LeEco yang menemani KompasTekno, TV tersebut memiliki ukuran layar 120 inci.

Di bagian depan kantor, LeEco juga memamerkan produk smartphone apa saja yang sudah dirilis di AS. Ada juga sepeda pintar yang diberi nama LeEco Super Bike.

Baca: LeEco Pamerkan Sepeda Pintar Berbasis Android

Tidak jauh dari pintu masuk, ada tangga yang membawa pengunjung langsung ke lantai dua. Di lantai tersebut, terdapat beberapa ruangan rapat dan tempat para karyawan bekerja.

Sepintas melihat, tempat kerja itu terlihat berantakan. Pasalnya, LeEco baru pindah ke kantor pusatnya ini pada bulan Agustus lalu.
Deliusno/Kompas.com
Tempat kerja LeEco terlihat seperti kantor pada umumnya

Berbeda dari kantor pusat perusahaan teknologi lainnya yang kebanyakan “memanjakan” karyawan dengan sarana hiburan, kantor pusat LeEco di AS tampak benar-benar kaku. Tidak seperti perusahaan-perusahaan teknologi lainnya, seperti Google dan Apple.

Sejauh mata memandang, ruangan kantor terdiri dari kubikel-kubikel seperti kantor-kantor pada umumnya.
Deliusno/Kompas.com
Ruangan rapat LeEco
Deliusno/Kompas.com
Bosan bekerja sambil duduk? Mengapa tidak berdiri saja!

Namun, para karyawan tetap bisa bersantai di tempat makan yang disediakan, lokasinya di lantai satu. Di tempat ini, tersedia makanan gratis yang bisa disantap karyawan jika mereka lapar.
Deliusno/Kompas.com
Makanan gratis tersedia di tempat ini
Deliusno/Kompas.com
Ingin bersantai? Kunjungi saja taman ini
Deliusno/Kompas.com
Ingin pesta BBQ di kantor? Silahkan saja

Di luar ruang makan tadi, ada taman kecil yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai. Uniknya, di taman itu LeEco menyediakan sebuah pojok barbeque, lengkap dengan pemanggang besar untuk para karyawan.

Pengembangan ke depan

Kantor LeEco di San Jose ini sebenarnya tidak terlalu besar. Menurut info, kantor tersebut hanya berukuran 80.000 kaki persegi atau sekitar 0,7 hektar. Meski begitu, kantor itu bisa ditempati oleh sekitar 600 karyawan.

Kantor LeEco saat ini ditempati oleh banyak divisi, seperti engineering hardware, software, smartphone, TV, virtual reality (VR), hingga pusat riset dan pengembangan (R&D).

Baca: Mengenal LeEco, Pembuat Smartphone, TV 4K, dan Mobil Otonomos

LeEco sendiri sudah memiliki rencana besar di AS dalam beberapa tahun mendatang. Mereka sudah membeli lahan bekas kantor pusat Yahoo di Santa Clara, California, AS.

Nantinya, LeEco berencana ekspansi besar-besaran ke bekas kantor Yahoo itu dengan membangun perkampungan mini bagi para karyawannya.
Deliusno/Kompas.com
Maket yang menunjukkan seberapa besar kantor LeEco nantinya di Santa Clara

Tentunya, seiring dengan ekspansi itu, karyawan LeEco yang ada di AS saat ini juga akan ditambah.

LeEco sendiri menargetkan akan mempekerjakan 12.000 orang, yang semuanya akan bekerja di lahan bekas Yahoo itu nantinya.

7 Hal yang Dibunuh Apple demi MacBook Pro Baru

Apple tak tanggung-tanggung dalam upayanya menciptakan laptop yang tipis nan ringan. Tengok saja MacBook Pro terbaru.

Perusahaan dengan sengaja menghapus sejumlah teknologi yang masih jamak dipakai laptop lain demi mencapai kata tipis dan ringan tersebut.

Sebagai gantinya, Apple memang memberikan fitur dan teknologi lain yang tergolong mutakhir. Misalnya, panel Touch Bar sebagai pengganti tombol fungsi dan USB-C untuk keperluan mengisi daya hingga memindahkan data.

Namun yang dihapus bukan sekadar teknologi saja. Apple bahkan memensiunkan sejumlah MacBook lawas yang masih memiliki teknologi tersebut.

Baca: Apple Hapus MacBook Air 11 Inci

Seperti dirangkum KompasTekno dari MacWorld, Jumat (28/10/2016), total ada 7 hal yang dihilangkan. Berikut ini rinciannya:

1. MagSafe

MagSafe merupakan konektor kabel charger dengan port pengisian daya di berbagai MacBook lawas. Konektor ini memanfaatkan magnet dan bahkan menjadi sebuah ciri khas laptop buatan Apple.

Walau terkesan sepele, konektor ini sebenarnya memiliki fungsi yang sangat penting. Magnet pada ujungnya membuat konektor bisa melekat dengan stabil, tapi juga mudah terlepas saat ada sentakan pada kabel.

Baca: MagSafe, Ciri Khas MacBook yang Kini Dihilangkan Apple

Dengan demikian, saat kabel tersentak maka konektor charger akan lepas dengan sendirinya. Kabel, port pengisian daya, juga MacBook aman dari kerusakan akibat sentakan tersebut. Laptop tidak akan ikut terseret saat tersandung kaki, misalnya, karena kabel mudah lepas dari port.

Hal seperti ini mungkin sepele. Oleh karena itu, Apple menghapusnya. Toh pengguna masih bisa melakukan banyak hal menggunakan USB-C, bukan?

Namun, harap lebih berhati-hati, jangan sampai kabel charger yang sedang terpasang ke USB-C MacBook Pro baru tersangkut di kaki saat Anda sedang berjalan. Bisa-bisa, kabel beserta laptop ikut terseret karena kabel susah terlepas dari port USB-C.

2. Slot SD Card

Salah satu fitur tambahan yang sangat berguna di MacBook Pro adalah slot SD card. Apalagi jika penggunanya seorang fotografer atau siapapun yang sangat membutuhkan kemampuan membaca data di memori SD. Cukup colok saja, tak perlu repot-repot membawa card reader terpisah.

Kini, pada MacBook Pro terbaru, slot card reader itu benar-benar raib. Apple menghapusnya dan mengganti slot itu dengan port USB-C. Total, ada empat port USB-C di MacBook Pro terbaru ini.

Kemampuan memindahkan data USB-C ini memang lebih kencang. Kegunaannya pun lebih bervariasi, bisa dipakai untuk mengisi daya, juga dipakai untuk penghubung laptop ke layar eksternal.

Baca: Berapa Harga MacBook Pro Generasi Terbaru?

Sayangnya, semua kemampuan itu, termasuk soal membaca memori SD, memerlukan aksesori tambahan yang tak murah.

Pengguna mesti membeli card reader khusus untuk USB-C, yang hingga kini belum ada, atau membawa card reader USB biasa dan membeli adapter untuk menghubungkannya ke USB-C.

Pilihan mana pun itu, pengguna mesti menggelontorkan dana lebih dan menenteng-nenteng aksesori tambahan.

Siapa Bilang Cuma Model yang Bisa Bikin “Selfie” Cantik?

Unggahan foto selfie dalam akun media sosial para model wanita kerap memperlihatkan kecantikan yang umum dipahami masyarakat. Dalam foto mereka, misalnya, bulu mata terlihat lentik, kulit wajah bersih, dan tulang rahang tampak tirus.

Asal tahu caranya, sebenarnya menghasilkan foto selfie seperti para model itu tidaklah terlalu sulit. Berikut ini sejumlah tips yang telah dirangkum Kompas.com berdasarkan pengalaman model-model internasional:

Pencahayaan

Cahaya menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan foto cantik bak model. Pencahayaan bisa berasal dari alam atau alat bantu. Cahaya dari alam misalnya sinar matahari atau bulan, sedangkan alat bantu bisa berupa lampu atau flash—lampu kilat.

Model asal Perancis, Constance Jablonski, adalah salah satu model yang menegaskan pentingnya cahaya saat selfie. Menurut Jablonski, pencahayaan dapat membuat foto yang sama terlihat berbeda. Misal, kulit wajah yang agak terlihat pucat menjadi tampak cerah saat sudah mendapat bantuan sinar.

Arah datangnya cahaya, ucap Jablonski, juga bisa menentukan suasana foto selfie. Jika ingin memberi kesan moody atau agak murung, misalnya, berdiri membelakangi cahaya dapat dicoba. Cahaya dari arah ini akan membentuk bayangan di wajah yang memperlihatkan kesan moody.

“Saya pribadi lebih menyukai cahaya yang berasal dari sisi depan ketika selfie. Cahaya depan dapat membuat mata berkilau. Kulit wajah pun terlihat bebas noda,” lanjut Jablonski seperti dikutip elle.com, Rabu (22/10/2016).

Selanjutnya, selfie pada malam hari atau di dalam ruangan kurang terang dapat menggunakan bantuan cahaya dari alat bantu. Teknik ini pernah dilakukan model Victoria’s Secret—merek pakaian dalam—Alessandra Ambrosio.
DAILY MAIL
Hasil selfie Alessandra Ambrosio

Dalam selfie-nya, Ambrosio pernah terlihat sedang memegang lampu ketika berada dalam ruang rias. Efek dari cahaya tersebut membuat riasan wajahnya terlihat jelas.

Angle dan edit

Setelah mendapat pencahayaan cukup, hal lain yang perlu diperhatikan adalah angle atau sudut pengambilan gambar. Kendall Jenner—model asal Amerika Serikat (AS), merupakan salah satu figur yang selalu memperhatikan angle ketika selfie.

Menurut Jenner, seperti dikutip usmagazine.com pada Selasa (9/2/2016), setiap orang pasti memiliki angle tertentu yang membuatnya terlihat menarik di foto. Karena itu, mengenal karakter wajah dengan baik wajib dilakukan agar hasil selfie lebih maksimal.

“Tidak semua angle foto bagus untuk saya. Jadi, saya selalu memastikan menggunakan angle terbaik,” ujar Jenner.

Hal yang biasa dilakukan oleh Jenner untuk menemukan angle terbaik adalah berlatih di depan kaca. Dari latihan ini, dia menemukan angle terbaiknya, yaitu dari sisi kanan wajah. Jenner tampak lebih langsing karena rahangnya terlihat agak menonjol.

Selain memperhatikan angle, trik lain dari para model adalah mengedit foto. Menurut model dan aktris Tyra Banks, tidak ada manusia yang sempurna. Mengedit foto agar terlihat lebih cantik merupakan hal wajar.

“Saya pribadi juga suka mengedit hasil foto selfie. Saya memiliki kecemasan mengenai bagian tubuh tertentu,” kata Banks dikutip eonline.com pada Kamis (24/9/2016).

COSMOPOLITAN.CO.UK/ UBERTOPIC.COM
Lewat akun Instagramnya @tyrabanks, pencipta program acara America’s Next Top Model ini mengunggah foto wajahnya

Pada acara talkshow gaya hidup, FABLife, Banks menunjukkan keahliannya dengan mengedit foto salah satu penonton yang hadir. Pertama, dia memilih aplikasi edit foto. Biasanya Banks menggunakan aplikasi Photoshop atau Facetune.

Kemudian, dia mulai mengedit bagian wajah. Banks menerangkan warna mata sekaligus menghaluskan garis-garis kerutan di sekitarnya. Gigi dibuat lebih putih pula.

Selain wajah, Banks memberi sentuhan pada bagian lengan dan perut agar terlihat lebih kencang. Leher juga dibuat lebih panjang agar tubuh terkesan lebih tinggi dan kurus. Terakhir, semua kerutan pada kulit yang mungkin tertangkap kamera dibuat halus.

Meskipun sudah diedit sana sini, lanjut Banks, sebaiknya gambar tidak menghilangkan tampilan asli si empunya foto. Jangan sampai mengedit terlalu berlebihan hingga terlihat tidak natural. Ingat, suntingan hanya membantu meningkatkan kepercayaan diri.

Jadi, sudah siap menghasilkan selfie seperti para model di atas? 1..2..3.. Cheese!